Sistem Informasi dan Teknologi Informasi: Dari Masalah hingga Menciptakan Solusi Digital
Ketika belajar Sistem Informasi, pertanyaan pertama seharusnya bukan:
“Saya mau memakai bahasa pemrograman apa?”
Bukan pula:
“Saya mau membuat aplikasi apa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Masalah apa yang ingin saya selesaikan, dan solusi apa yang ingin saya ciptakan?”
Dari pertanyaan tersebut barulah muncul kebutuhan untuk merancang sistem, memilih teknologi, membuat aplikasi, melakukan pengujian, dan menerapkannya kepada pengguna.
Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi
Inilah salah satu perbedaan cara berpikir antara Sistem Informasi dan Teknologi Informasi.
1. Sistem Informasi dan Teknologi Informasi bukan hal yang sama
Sistem Informasi (SI) berfokus pada hubungan antara:
Manusia + Proses + Data + Informasi + Teknologi
Sedangkan Teknologi Informasi (TI) lebih menekankan teknologi yang digunakan untuk mengelola dan menyediakan informasi.
Teknologi dapat berupa:
- komputer;
- server;
- jaringan;
- database;
- software;
- cloud computing;
- keamanan;
- sistem operasi;
- API;
- dan teknologi digital lainnya.
Sementara Sistem Informasi melihat bagaimana berbagai komponen tersebut digunakan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata.
2. Mulai dari masalah, bukan dari coding
Seorang pembelajar Sistem Informasi dapat menggunakan pola:
Masalah → Analisis → Kebutuhan → Solusi → Sistem → Teknologi → Aplikasi
Misalnya ada sebuah toko yang masih mencatat transaksi menggunakan buku.
Masalahnya:
- transaksi sulit dicari;
- stok tidak otomatis berkurang;
- laporan penjualan dibuat manual;
- pemilik kesulitan memantau transaksi;
- data dapat hilang atau rusak.
Maka pertanyaan berikutnya:
Solusi apa yang dapat dibuat?
Jawabannya dapat berupa:
Sistem Informasi Penjualan.
Barulah ditentukan bagaimana sistem tersebut akan dibuat.
3. Apa yang ingin saya ciptakan?
Pertanyaan ini penting dalam proses belajar.
Jangan hanya berpikir:
“Saya ingin belajar PHP.”
atau:
“Saya ingin belajar JavaScript.”
Lebih baik berpikir:
“Saya ingin menciptakan sistem yang dapat menyelesaikan masalah tertentu.”
Contohnya:
Masalah
Data transaksi toko masih manual.
Solusi
Menciptakan Sistem Informasi Penjualan.
Teknologi
Database + backend + frontend.
Hasil
Aplikasi yang dapat:
- mencatat transaksi;
- mengelola produk;
- menghitung stok;
- membuat laporan;
- mengelola pengguna.
Dengan demikian, teknologi menjadi alat untuk mencapai solusi.
4. Metode belajar Sistem Informasi
Metode belajar dapat dibuat dalam beberapa tahap.
Tahap 1 — Temukan masalah
Cari masalah yang benar-benar ada.
Contohnya:
Bagaimana cara membuat pengelolaan stok lebih mudah?
Bagaimana cara membuat laporan otomatis?
Bagaimana cara mengelola data pelanggan?
Bagaimana cara menyediakan layanan digital yang dapat diakses banyak pengguna?
Masalah tersebut menjadi titik awal.
Tahap 2 — Tentukan solusi
Setelah menemukan masalah, tentukan solusi.
Contohnya:
| Masalah | Solusi |
|---|---|
| Transaksi manual | Sistem kasir |
| Stok sulit dipantau | Sistem inventori |
| Data mahasiswa tersebar | Sistem akademik |
| Absensi manual | Sistem absensi |
| Dokumen sulit dikelola | Sistem manajemen dokumen |
| Informasi tidak terpusat | Portal informasi |
Dengan cara ini, pembelajaran memiliki tujuan yang jelas.
5. Tentukan sistem yang ingin diciptakan
Setelah solusi ditentukan, pikirkan sistemnya.
Misalnya ingin membuat:
Sistem Informasi Penjualan
Maka dapat ditentukan:
Pengguna
- kasir;
- admin;
- pemilik.
Data
- produk;
- kategori;
- pelanggan;
- transaksi;
- pembayaran;
- stok.
Proses
Login → Transaksi → Pembayaran → Stok → Laporan
Informasi
- omzet;
- jumlah transaksi;
- stok;
- produk terlaris;
- laporan penjualan.
Barulah sistem mulai memiliki bentuk yang jelas.
6. Dulu: Software Desktop
Sebelum aplikasi web berkembang seperti sekarang, salah satu cara membuat Sistem Informasi adalah menggunakan software desktop.
Contohnya:
Pengguna
↓
Software Desktop
↓
Database
Program dipasang pada komputer.
Contohnya:
- aplikasi kasir;
- aplikasi inventori;
- aplikasi kepegawaian;
- aplikasi administrasi;
- aplikasi akademik.
Pembelajar pada masa tersebut dapat belajar:
Logika pemrograman → GUI → Database → CRUD → Laporan → Software Desktop
Tujuannya sama:
menyelesaikan masalah menggunakan sistem digital.
7. Sekarang: Web Application
Perkembangan internet membuat aplikasi dapat diakses melalui browser.
Arsitekturnya menjadi:
Pengguna
↓
Browser
↓
Web Application
↓
Server
↓
Database
Tidak harus membuat aplikasi khusus untuk setiap komputer.
Pengguna cukup membuka aplikasi melalui browser.
8. Kemudian: Web Cloud
Perkembangan cloud membuat sistem dapat dirancang sebagai layanan yang berjalan pada infrastruktur cloud.
Contohnya:
Laptop ──┐
Tablet ──┼── Internet ── Web Cloud
HP ──────┘ ↓
Application
↓
Database
↓
Storage
Dengan pendekatan ini, sistem dapat dikembangkan menjadi layanan digital yang mendukung banyak pengguna dan berbagai perangkat.
9. Desktop dan Web Cloud memiliki tujuan yang sama
Perbedaan utama bukan pada tujuan Sistem Informasinya.
Misalnya:
Masalah:
Toko kesulitan mengelola transaksi.
Dulu solusinya bisa:
Software Kasir Desktop
Sekarang solusinya bisa:
POS berbasis Web Cloud
Masalahnya sama.
Tujuannya sama.
Yang berubah adalah cara teknologi digunakan untuk mewujudkan solusi.
10. Jangan terjebak pada teknologi
Teknologi terus berubah.
Dahulu orang menggunakan teknologi desktop.
Kemudian berkembang:
Desktop → Web → Mobile → Cloud → API → Platform
Framework juga terus berganti.
Bahasa pemrograman juga berkembang.
Karena itu, seorang pembelajar Sistem Informasi sebaiknya tidak hanya menghafal teknologi.
Yang lebih penting adalah memahami:
Mengapa sistem tersebut dibuat?
Masalah apa yang diselesaikan?
Siapa penggunanya?
Informasi apa yang dibutuhkan?
Bagaimana prosesnya?
Teknologi apa yang paling sesuai?
11. Sistem Informasi bukan mekanik atau bengkel
Kata “sistem” tidak otomatis berarti mesin atau kendaraan.
Dalam Sistem Informasi, yang dibangun adalah sistem berbasis:
data + informasi + manusia + proses + teknologi digital.
Objek yang dipelajari misalnya:
- aplikasi;
- database;
- website;
- Web Cloud;
- sistem bisnis;
- sistem akademik;
- sistem administrasi;
- sistem informasi organisasi.
Jadi pembahasan ini tidak berkaitan dengan mekanik, mesin kendaraan, atau pekerjaan bengkel.
Fokusnya adalah solusi digital berbasis informasi.
12. Pola pikir pencipta Sistem Informasi
Seorang pencipta Sistem Informasi dapat menggunakan pola sederhana:
MASALAH
↓
Apa yang terjadi?
↓
ANALISIS
↓
Apa kebutuhannya?
↓
SOLUSI
↓
Apa yang ingin diciptakan?
↓
SISTEM
↓
Bagaimana prosesnya?
↓
TEKNOLOGI
↓
Bagaimana dibuat?
↓
APLIKASI
↓
PENGUJIAN
↓
IMPLEMENTASI
↓
EVALUASI
Ini membuat proses belajar menjadi lebih masuk akal.
13. Contoh cara berpikir nyata
Misalnya seseorang melihat masalah:
“Saya ingin membuat data portofolio digital lebih mudah dikelola dan diakses.”
Jangan langsung membuat kode.
Mulai dari:
Masalah
Informasi portofolio tersebar.
Kebutuhan
Informasi harus terorganisasi.
Solusi
Membuat portal portofolio digital.
Sistem
Portal yang memiliki:
- profil;
- kompetensi;
- pengalaman;
- proyek;
- dokumentasi;
- artikel;
- kontak.
Teknologi
Website + database + cloud hosting.
Hasil
Portal Web Cloud Portofolio.
Di sini terlihat bahwa aplikasi muncul setelah masalah dan solusi dipahami.
14. Dari belajar coding menjadi belajar menciptakan solusi
Belajar coding tetap penting.
Namun coding sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu kemampuan untuk mewujudkan solusi.
Urutannya:
Berpikir → Menganalisis → Merancang → Coding → Menguji → Menerapkan
Bukan hanya:
Coding → Coding → Coding.
Karena seseorang bisa saja mampu membuat program, tetapi belum tentu mampu membuat sistem yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sebaliknya, seorang praktisi Sistem Informasi perlu memahami hubungan antara masalah dan solusi sebelum menentukan bagaimana teknologi akan digunakan.
Kesimpulan
Perbedaan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi dapat dilihat dari cara pandangnya.
Teknologi Informasi banyak berfokus pada teknologi yang digunakan.
Sistem Informasi melihat bagaimana teknologi tersebut digunakan bersama manusia, proses, data, dan informasi untuk menghasilkan solusi.
Karena itu, metode belajar Sistem Informasi sebaiknya dimulai dari:
“Masalah apa yang ingin saya selesaikan?”
Kemudian:
“Solusi apa yang ingin saya ciptakan?”
Barulah dilanjutkan dengan:
“Sistem seperti apa yang diperlukan?”
dan:
“Teknologi apa yang paling sesuai untuk membuatnya?”
Dari sinilah seseorang dapat belajar menciptakan berbagai bentuk aplikasi, mulai dari Software Desktop, kemudian Web Application, hingga Web Cloud.
Teknologinya boleh berubah.
Platformnya boleh berubah.
Bahasa pemrogramannya boleh berubah.
Tetapi prinsipnya tetap:
Temukan masalah → pahami kebutuhan → ciptakan solusi → bangun sistem → gunakan teknologi → hasilkan manfaat.
Itulah salah satu cara berpikir penting dalam Sistem Informasi: bukan sekadar belajar membuat aplikasi, tetapi menciptakan solusi digital untuk menyelesaikan masalah nyata.
Sebuah Prototype PT Five Plus Company
Yang akan melahirkan aplikasi web cloud berbasis sistem, namun kita tidak mengatakan sekata apapun itu. Tapi apapun yang saya ciptakan semua berawal dari masalah untuk menciptakan solusi walaupun sangat sederhana. Misalnya 101play.web.id unit brand dari induk 101Probolinggo+ banyak aplikasi terpisah ambil sampel sportify khusus music saja, vidio.com khusus vidio saja menuh-menuhi internal hp android, akhirnya saya berfikir bagaimana hal tersebut jadi satu platform yang terinstall pada handphone untuk menghemat ruang internal ROM pada hp android. Ada yang kepikiran ?. Dan itu rumit sekali karena observasi terlebih dahulu mulai dari analisa kebutuhan yang sangat komplek.
Secara defakto dan dejure saya dari dulu mempelajari sistem informasi bukan teknologi informasi tapi intinya mirip tapi tidak sama. Tahu Serigala dan Anjing ? bedakan tapi satu famili dengan anjing. Nah silahkan tanya jurusan IPA saya tidak begitu paham.
Regard
Eksplorasi konten lain dari Portal 101Tamael Web Cloud
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
0 Comments